16 Strategi Perdagangan Saham BERITA TERKAIT

Peringkat broker opsi biner:

Strategi perdagangan Indonesia hadapi tantangan global

Selasa, 3 Februari 2020 01:34 WIB

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) – Udara dingin yang bisa mencapai minus tujuh pada pagi hari di Davos, Swiss, tidak menyurutkan lebih dari seribu CEO perusahaan besar dari berbagai belahan dunia mengikuti pertemuan tahunan World Economic Forum yang berlangsung sejak 21-24 Januari 2020

Ajang tahunan WEF menjadi penting bagi mereka dalam mengambil keputusan bisnis ke depan karena dalam forum itu dibahas berbagai tren, tantangan, dan solusi dan peluang di tahun ini.

Tahun ini organisasi yang didirikan profesor di bidang bisnis dari Universitas Jenewa, Swiss, Klaus Schwab itu mengambil tema besar diskusi “The New Global Context” yang tidak hanya membahas masalah ekonomi, tapi juga politik, sosial, lingkungan, dan teknologi.

Namun sejak awal, Klaus Schwab menegaskan bahwa pertemuan tahunan yang tidak hanya dihadiri CEO, tapi juga akademisi, tokoh politik dan pemerintahan, serta lembaga swadaya masyarakat dan jurnalis itu, bukan hanya untuk menginventaris masalah, tapi juga mencari solusi.

“Kita datang di sini untuk menangani berbagai tantangan regional dan domestik,” katanya pada pembukaan forum tersebut.

Peringkat broker opsi biner:

Ia berharap dari interaksi para pemimpin perusahaan, tokoh, dan akademisi, serta LSM, dan jurnalis itu akan menghasilkan salah satunya kesepakatan dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, di tengah tantangan global yang makin berat.

Tantangan tersebut antara lain berasal dari harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun dan krisis di sejumlah negara yang belum berakhir, sehingga mempengaruhi perubahan bisnis dan pertumbuhan ekonomi global.

Dalam diskusi awal terkait ekonomi makro terungkap bahwa negara berkembang akan mendapat tantangan besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Hal itu terkait dengan perlambatan ekonomi global, proses pemulihan ekonomi Amerika Serikat, krisis di Eropa yang bisa muncul sewaktu-waktu, penurunan harga minyak dunia, serta perlambatan laju pertumbuhan ekonomi China yang selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan global.

Pada diskusi dengan pembicara antara lain Co-founder and Managing Director The Carlyle Group David M. Rubenstein, Deputy Managing Director International Monetary Fund (IMF) Min Zhu, CEO SOHO China Zhang Xin, Vice-Chairman GE Hong Kong SAR John Rice, dan ekonom asal Jerman Axel Weber itu juga terkemuka tantangan lain di bidang ekonomi berupa risiko penggelembungan aset di beberapa beberapa negara, inflasi tak terkendali, kegagalan mekanisme sistem keuangan, dan krisis ekonomi pada sebagian negara utama di dunia.

Dari semua itu yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan harga minyak mentah yang menyentuh angka di bawah 50 dolar AS/barel, serta keengganan AS memangkas produksi shale oil, yang bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

Salah satu negara yang diperkirakan akan “terpukul” oleh tantangan global yang masih berat itu adalah adalah Rusia. Perekonomian negeri Beruang Merah itu diperkirakan tumbuh di bawah proyeksi 4,8 persen pada tahun ini.

Ekonomi Domestik

Lalu bagaimana dampak ekonomi global tersebut terhadap Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil yang juga hadir pada WEF nampak tidak khawatir dengan hal tersebut. Ia yakin kekuatan ekonomi domestik masih besar untuk menghadapi tantangan global yang bakal menghadang

Apalagi ia menilai pembicaraan mengenai Indonesia sangat positif di forum dunia itu. Pada sejumlah diskusi banyak pembicara yang mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah terutama di bidang reformasi birokrasi dan perbaikan iklim investasi. .

“Saya melihat pesan Presiden Joko Widodo tentang perbaikan iklim investasi di Indonesia sudah tersebar luas di sini (WEF),” ujar Sofyan.

Oleh karena itu ia tidak ragu investasi asing ke Indonesia bakal terus mengalir. Apalagi sejumlah negara maju melonggarkan likuiditas mereka.

Sofyan justru mengkhawatirkan penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena negeri Tirai Bambu itu merupakan salah satu tujuan utama ekspor komoditas Indonesia.

Pada 2020, misalnya, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 22,6 miliar dolar AS dan pada Januari-Oktober 2020 nilai ekspor telah mencapai 14,6 miliar dolar AS.

Sofyan mengakui ada kecenderungan ekspor Indonesia menurun, tidak hanya karena perlambatan ekonomi Tiongkok, namun juga akibat pemerintah melarang ekspor bahan tambang dalam keadaan mentah (primer). Selama ini ekspor Indonesia ke Tiongkok didominasi produk bahan primer, termasuk tambang dan perkebunan.

Namun jangka menengah dan panjang, ia yakin dengan pelarangan ekspor bahan mentah, maka nilai ekspor Indonesia akan meningkat karena harga komoditas bakal naik setelah diolah terlebih dahulu di dalam negeri.

Hal senada dikemukakan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel yang juga hadir di WEF. Ia menilai tantangan global yang semakin berat, merupakan peluang untuk menunjukkan kekuatan ekonomi dan pasar domestik.

“Pasar domestik kita yang besar adalah insentif dan bisa dimanfaatkan lebih maksimal di tengah tantangan global saat ini,” katanya di sela-sela pertemuan bilateral dengan sejumlah negara di Davos.

Untuk itu, ia akan mengoptimalkan semua perangkat yang ada di Kementerian Perdagangan untuk melindungi pasar dalam negeri, mendorong investasi, dan mendukung penguatan industri nasional.

Kendati demikian, Rachmat menegaskan pihaknya juga akan terus mencari peluang-peluang baru untuk menggenjot ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi guna memenuhi target kenaikan ekspor tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Untuk itu, meski baru tiga bulan sejak pelantikan menjadi Menteri Perdagangan, ia langsung memanggil para pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri — yang terdiri dari 24 atase perdagangan, 19 pejabat Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC), konsul perdagangan di Hong Kong, dan kantor dagang dan ekonomi di Taiwan — guna membuat strategi ekspansi pasar ekspor.

“Pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri harus berperan aktif dan inovatif meningkatkan ekspor di negara akreditasi masing-masing,” ujar Rachmat yang juga mantan anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) itu.

Keseriusan itu juga terlihat ketika ia meminta secara khusus Atase Perdagangan Indonesia di Jenewa, Swiss, Nugraheni Prasetya Hastuti untuk mencari peluang baru ekspor produk manufaktur.

“Tolong cari peluang-peluang lain untuk meningkatkan ekspor kita ke Swiss,” pintanya ketika berada di Bandara Zurich sebelum kembali ke tanah air pascamenghadiri pertemuan WEF di Davos, beberapa waktu lalu.

Permintaan Rachmat itu terkait strategi jangka menengah Kementerian Perdagangan untuk mengubah struktur komoditas ekspor. Selama ini ekspor nonmigas Indonesia didominasi produk primer (bahan mentah) yang mencapai 63 persen, sedangkan produk manufaktur hanya 37 persen.

Ke depan struktur itu akan diubah menjadi 65 persen produk manufaktur dan 35 persen produk primer. “Untuk mencapai target itu, saya akan berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian Saleh Husin,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Riset itu.

Sejauh ini pihaknya telah menginventarisasi 60 produk untuk mendukung perubahan struktur ekspor tersebut, antara lain berupa produk jasa, produk kreatif, produk kulit, elektronik, tekstil, kimia, kayu dan mebel, serta produk logam yang permintaannya masih tinggi di dunia, di samping mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Perubahan itu juga sejalan dengan prediksi Bank Dunia dalam “Commodity Price Forecast” yang menyebutkan indeks harga komoditas enegi akan turun dari 123,2 pada 2020 menjadi 121,9 pada 2020. Sedangkan indeks harga produk manufaktur naik dari 109 pada 2020 menjadi 115,4 pada 2020.

Oleh karena itu ia mengajak seluruh kekuatan terutama di jajaran Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk bekerja lebih keras dan tangkas, bahkan kalau perlu melewati rintangan yang berbahaya sekalipun agar target 300 persen kenaikan ekspor bisa tercapai.

“Seperti suatu ungkapan dalam Bahasa Itali yang pernah dipopulerkan Bung Karno, Vivere Pericoloso, yang berarti hiduplah secara berbahaya. Kemendag bercita-cita besar meningkatkan daya saing hingga dapat melipatgandakan ekspor nonmigas selama 2020,” ujarnya.

Oleh Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Strategi Trading Saham: “Beli Rendah, Jual Tinggi”

“Membeli harga rendah, dan menjual saat harga tinggi” adalah salah satu strategi trading saham yang sering diterapkan oleh para trader saham untuk mengambil keuntungan dari pasar saham. Tak hanya berlaku di pasar saham, strategi ini bisa diterapkan di pasar lainnya seperti obligasi, valas, dll. Walaupun kelihatannya sederhana, tetapi dalam eksekusinya seringkali sulit untuk dilakukan.

Sangat mudah untuk mengatakan apakah harga saham tertentu rendah atau tinggi dalam retrospeksi, tetapi pada saat itu secara monumental terbilang sulit. Harga mempengaruhi psikologi dan emosi para pelaku pasar.

Karena alasan itulah strategi trading saham, “beli rendah jual tinggi”, bisa jadi menantang untuk dapat diterapkan secara konsisten. Trader saham dapat menggunakan alat bantu seperti moving average dan siklus bisnis.

Kesulitan Strategi Trading Saham “Beli Rendah, Jual Tinggi”

Ada contoh kasus klasik dari kondisi pasar yang terdorong ke titik ekstrem, yaitu harga tinggi karena terjadi gelembung pasar atau harga rendah karena terjadinya kepanikan pasar. Ini salah satu peluang terbaik untuk menerapkan strategi membeli dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga tinggi.

Akan tetapi, ada banyak waktu saat pasar terus bergerak ke satu arah, menjadi hukuman bagi mereka yang ingin membeli (harga) rendah dan menjual (harga) tinggi. Apa yang tampak seperti harga tinggi pada suatu hari akan terlihat seperti harga rendah di hari yang lain.

Trader dan investor saham harus memiliki metode obyektif tertentu untuk menentukan apakah harga sedang tinggi atau rendah. Manusia terkondisikan untuk mengikuti orang banyak. Ada kesulitan yang melekat secara konsisten saat ingin membeli rendah dan menjualnya dengan tinggi.

Ketika harga rendah, sentimen cenderung sangat negatif terhadap saham. Banyak pemegang bullish dipaksa membuang sahamnya. Demikian pula, ketika harga tinggi, sulit membayangkan melepaskan saham yang harganya tinggi.

Strategi trading saham “beli rendah, jual tinggi” bisa menyesatkan dalam beberapa hal, karena posisi terendah dan tertinggi hanya menjadi jelas dalam retrospeksi. Selalu ada bull yang menganggap harga saham rendah dan bear yang menganggapnya tinggi.

Seringkali, kedua belah pihak membuat argumen yang meyakinkan. Tantangan bagi investor dan trader adalah untuk menentukan saham mana yang terdorong ke arah ekstrem berdasarkan fundamental dan yang didorong oleh emosi.

Penggunaan Moving Averages

Salah satu cara sederhana untuk menerapkan strategi beli rendah, menjual tinggi adalah dengan menggunakan moving averages. Indikator ini berasal dari harga dan sangat membantu trader serta investor dalam menentukan tren saham.

Menggunakan moving averages dari durasi yang lebih pendek dan satu dengan durasi yang lebih lama dapat membantu dalam membantu trader membeli rendah dan menjual tinggi serta melindungi risiko downside. Sebagai contoh, salah satu metode umum adalah menggunakan indikator rata-rata bergerak 50 hari dan 200 hari. Ketika rata-rata bergerak 50 hari melintasi 200 hari, maka menghasilkan sinyal beli. Ketika melintasi lainnya, maka menghasilkan sinyal jual.

Indikator ini efektif dalam membantu trader mengatur waktu masuk ke titik ketika tren sedang goyah. Salah satu masalah penerapan strategi trading saham dengan buy low sell high adalah membeli atau menjual sebelum tren telah sepenuhnya habis. Dengan penggunaan indikator tersebut, akan terhindar dari masalah ini,

Siklus Bisnis dan Sentimen

Suatu pendekatan membeli tinggi, menjual rendah, lebih cocok untuk investor jangka panjang. Pendekatan ini menggunakan siklus bisnis dan survei sentimen sebagai alat pengukur waktu pasar. Pasar mengikuti pola yang agak konsisten bergerak dari rasa takut ke keserakahan dalam jangka waktu yang lama.

Waktu ketakutan maksimum adalah waktu terbaik untuk membeli saham, sementara keserakahan adalah waktu optimal untuk menjual dengan harga tinggi. (Baca lebih lanjut: Psikologi Trading Saham: Keserakahan dan Ketakutan)

Kondisi ekstrem ini terjadi beberapa kali setiap dekade dan memiliki kesamaan yang luar biasa. Siklus emosional ini mengikuti siklus bisnis. Ketika ekonomi berada dalam resesi, rasa takut mendominasi ketika aktivitas ekonomi menurun. Ini saatnya membeli saham dengan harga rendah.

Ketika siklus bisnis berada dalam fase ekspansi, aktivitas ekonomi meningkat. Biasanya, orang merasa optimis tentang masa depan. Ini saatnya menjual saham dengan harga tinggi. Survei sentimen dari perusahaan survei dapat memberikan wawasan lebih jauh ke dalam siklus bisnis.

Peringkat broker opsi biner:
Di mana menginvestasikan uang
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: