Bitcoin Indonesia Legal Atau Tidak, Bagaimana Dengan Legalitas Bitcoin Apakah Aman dan Legal di

Peringkat broker opsi biner:

Bagaimana Dengan Legalitas Bitcoin? Apakah Aman dan Legal di Indonesia?

Seperti apa legalitas Bitcoin dan keamanan cryptocurrency di Indonesia? Akhir-akhir ini cryptocurrency memang sedang hits di dunia investasi.

Namun apakah jenis investasi yang satu ini legal dan aman dilakukan di tanah air? Mari simak pembahasannya berikut ini:

Apa itu Bitcoin?

Beberapa waktu lalu, dunia digemparkan dengan serangan malware Ransomware WannaCry yang menyerang komputer dengan sistem operasi Windows.

Alih-alih meminta tebusan uang tunai atau logam mulia, Hacker Ransomware WannaCry meminta tebusan dalam bentuk Bitcoin, senilai US$600 atau setara dengan Rp7,9 juta.

Mengapa bukan uang tunai atau logam mulia? Apa itu Bitcoin?

Bitcoin merupakan sebuah alat pembayaran yang diciptakan oleh sekelompok programmer yang mengatasnamakan dirinya sebagai Satoshi Nakamoto pada tahun 2009.

Disebut-sebut sebagai digital currency pertama di dunia, Bitcoin menjadi cryptocurrency yang sistem pertukarannya tidak dikelola oleh operator manapun, melainkan dilakukan dengan sistem peer-to-peer alias dilakukan langsung antarindividual tanpa perantara.

Mata uang Bitcoin tidak tercantum dalam sistem perbankan dan tidak terkait dengan pemerintah. Seluruh pertukarannya terekam dalam sebuah distributed ledger yang disebut blockchain.

Melansir dari buku Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Tahun 2020 oleh Tim National Risk Assessment (NRA) Indonesia Tindak Pidana Pendanaan Terorisme yang dapat diakses dari laman Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Bitcoin adalah salah satu bentuk New Payment Method (NPM) berupa virtual currency yang masih belum mendapat pengaturan yang jelas dan tegas yang dalam penggunaannya sering dikaitkan untuk transaksi hasil suatu tindak pidana.

Mengingat penggunaan Bitcoin sering dikaitkan dengan transaksi pribadi yang bersifat tanpa nama (anonymous transactions) sehingga bisa digunakan untuk transaksi ilegal, bagaimana dengan legalitasnya di Indonesia?

Melalui artikel ini, Finansialku akan mengupas tuntas mengenai legalitas dan keamanan Bitcoin di Indonesia sebagai berikut:

Ini merupakan pertanyaan yang sangat umum ditanyakan oleh para investor yang melirik jenis investasi potensial ini.

Lalu seperti apa jawabannya? Apakah betul Bitcoin legal digunakan sebagai alat transaksi maupun investasi menurut hukum Indonesia? Mari kita lihat pembahasannya:

Berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Mata Uang, uang merupakan alat pembayaran yang sah.

Sedangkan yang dimaksud dengan mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Rupiah

Dengan kata lain, mata uang merupakan sebuah alat pembayaran yang diterbitkan oleh pihak yang berwenang. Untuk kasus di Indonesia berupa Rupiah.

Bahkan, Pasal 33 ayat (1) UU Mata Uang berbunyi:

Setiap orang yang tidak menggunakan Rupiah dalam:

  1. setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran;
  2. penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan/atau
  3. transaksi keuangan lainnya,

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Namun Bitcoin hadir dan membuat gempar dunia karena nilainya yang naik dalam jumlah luar biasa besar. Selama 7 tahun terakhir, harga Bitcoin sudah naik sebesar 35.500 kali lipat.

Hal ini tentu menarik perhatian pihak berwenang di Indonesia (Bank Indonesia dan OJK).

Lalu bagaimana pandangan legalitas Bitcoin dari kedua pihak berwenang ini?

Pandangan Legalitas Bitcoin Menurut Bank Indonesia

Bank Indonesia menanggapi popularitas Bitcoin di Indonesia dengan mengadakan Siaran Pers Pernyataan Bank Indonesia Terkait Bitcoin dan Virtual Currency Lainnya.

Dalam siaran pers tersebut, Bank Indonesia membuat sebuah pernyataan sebagai berikut:

Memperhatikan Undang-undang No. 7 Tahun 2020 tentang Mata Uang serta UU No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009, Bank Indonesia menyatakan bahwa Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Masyarakat dihimbau untuk berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya. Segala risiko terkait kepemilikan/penggunaan Bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik/pengguna Bitcoin dan virtual currency lainnya.

Bahkan, menurut Pasal 34 huruf a Peraturan BI 18/2020, Bank Indonesia melarang Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran untuk melakukan pemrosesan terhadap seluruh transaksi pembayaran dengan menggunakan virtual currency (termasuk Bitcoin).

Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran yang melanggar ketentuan tersebut akan dikenakan sanksi administratif berup a:

  1. teguran;
  2. denda;
  3. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan jasa sistem pembayaran; dan/atau
  4. pencabutan izin sebagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran.

Bank Indonesia juga sedang merampungkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait uang elektronik yang akan keluar dalam waktu dekat akan diatur, salah satunya mengenai Bitcoin.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Program Transformasi BI Onny Widjanarko.
Kesimpulannya, Bank Indonesia menyatakan bahwa Bitcoin bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Atas dasar tersebutlah, BI meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam transaksi Bitcoin di Indonesia.

Pandangan Legalitas Bitcoin menurut OJK

Bagaimana dengan pandangan OJK mengenai legalitas Bitcoin di Indonesia?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melarang lembaga jasa keuangan memanfaatkan dan memasarkan mata uang digital atau Bitcoin karena tidak adanya legalitas dari Bank Indonesia.

Peringkat broker opsi biner:

Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fithri Hadi menjelaskan penyebab larangan ini dalam 3 poin berikut:

#1 Fungsi Bitcoin Tidak Diketahui

“Kalau ini Bitcoin ‘kan ujungnya aset digital yang ada di server yaa 0,001. Rangkaian angka.”

Kata-kata Fithri Hadi tersebut mengungkapkan bahwa belum diketahui nilai fundamental atau fungsi dari Bitcoin secara mendasar.

Berbeda dengan instrumen lainnya yang sudah memiliki fungsi jelas secara fundamental.

Misalnya saja logam berharga seperti emas yang secara jelas memiliki fungsi.

Adanya kejelasan mengenai sistem supply dan demand dalam jual beli logam mulia juga memengaruhi harga.

Sementara menurut Fithri, Bitcoin hanya berupa rangkaian angka.

#2 Masih Sulit Mencocokkan Bitcoin sebagai Mata Uang

Alasan kedua yakni kesulitan dalam mencocokkan Bitcoin sebagai mata uang mengingat Undang-Undang (UU) Mata Uang menegaskan bahwa hanya Rupiah yang menjadi alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan demikian, belum ada undang-undang yang menyatakan Bitcoin sebagai sebuah alat pembayaran yang sah di Tanah Air.

#3 Tidak Ada Jaminan Dasar Investasi Bitcoin

“Kami tanya ke beberapa pihak termasuk pakar atau pelaku langsung tidak ada.”

Alasan ketiga yakni anggapan OJK bahwa tidak ada yang bisa dijadikan jaminan (underlying) yang mendasari Bitcoin sebagaimana produk investasi lainnya.

Fihtri mengungkapkan bahwa berbagai pakar juga belum bisa menyatakan apa dasar jaminan dari investasi maupun transaksi Bitcoin.

Kesimpulannya, OJK masih dalam proses menuju penetapan kebijakan terkait Bitcoin serta kaitannya dengan perlindungan kepada konsumen atau masyarakat.

Sejauh ini, menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan transaksi ataupun investasi Bitcoin karena tidak adanya legalitas dari Bank Indonesia serta tidak ada landasan yang mendasarinya.

Apa Aman Berinvestasi dalam Bitcoin?

Memang betul Bitcoin memang sedang naik daun dan harganya sudah mencapai puluhan juta rupiah per 1 Bitcoin.

Nilai ini bisa dibilang sangat tinggi dan tentunya menarik banyak investor dalam investasi Bitcoin.

Namun melihat beberapa pandangan mengenai Bitcoin di Indonesia, Finansialku selaku perencana keuangan profesional menyimpulkan bahwa:

  1. Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia, sehingga dihimbau untuk berhati-hati dalam bertransaksi maupun berinvestasi Bitcoin.
  2. Belum diketahui nilai fundamental atau fungsi dari Bitcoin secara mendasar.
  3. Tidak ada yang bisa dijadikan jaminan (underlying) yang mendasari Bitcoin

Apakah Anda bisa berinvestasi Bitcoin? Jawabannya adalah bisa.

Namun apakah legal dan aman di Indonesia? Kenyataannya tidak.

Apakah Anda memiliki pertanyaan mengenai legalitas Bitcoin dan apakah aman dan legal di Indonesia lainnya? Tinggalkan komentar Anda di bawah. Jika ada pertanyaan, silakan ajukan pertanyaan Anda pada kolom di bawah ini. Perencana Keuangan kami siap membantu Anda, terima kasih.

Apakah Investasi Bitcoin di Indonesia Itu Aman?

Bitcoin merupakan investasi yang sedang digandrungi oleh banyak orang, bagaimana dengan investasi Bitcoin di Indonesia, apakah aman?

Rubrik kali ini akan membahas Bitcoin dan kondisi investasi Bitcoin di Indonesia. Semoga bermanfaat!

Pengertian Bitcoin

Akhir-akhir ini, pasti Anda sering mendengar istilah Bitcoin bukan? Tapi apakah Anda tahu apa sebenarnya bitcoin itu?

Bitcoin merupakan mata uang virtual yang pertama kali dikembangkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009.

Mata uang digital ini berfungsi seperti mata uang biasa seperti Rupiah, Dollar, Euro, atau yang lainnya. Yang membedakannya adalah mata uang ini hanya tersedia di dunia digital.

Pada Bitcoin teknologi yang digunakan adalah peer-to-peer, yang artinya transaksi dalam Bitcoin tidak memerlukan otoritas pusat atau bank sentral.

Pengelolaan transaksi dan penerbitan Bitcoin dilakukan secara kolektif di dalam jaringan.

Kenapa teknologi peer-to-peer yang digunakan?

Penggunaan teknologi peer-to-peer dipilih pada Bitcoin agar pemilik Bitcoin dapat mengirim uang tanpa harus menggunakan perantara ketiga atau melalui lembaga keuangan.

Selain itu, teknologi peer-to-peer juga dapat menghindari terjadinya transaksi ganda.

Pada Bitcoin juga dilengkapi dengan digital signature (tanda tangan digital) dan juga penanda waktu transaksi yang tercatat dan tidak dapat diubah dalam bentuk hash.

Bitcoin berbentuk open source yang artinya rancangannya bersifat umum, sehingga tidak ada yang dapat mengendalikan maupun menjadi pemilik Bitcoin.

Semua orang dapat mengambil bagian dan juga mengembangkan Bitcoin.

Dengan sifat yang unik tersebut, Bitcoin memungkinkan cara-cara penggunaan yang berbeda dan tidak bisa dilakukan oleh sistem pembayaran lainnya.

Dengan adanya Bitcoin, Anda dapat mentransfer secara mudah dan cepat dengan peer-to-peer ke orang lain dengan jangkauan yang lebih luas dengan biaya transfer yang sangat kecil, jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya transfer lembaga keuangan lainnya.

Akan tetapi, transaksi di Bitcoin bersifat irreversible, yang artinya Anda tidak dapat membatalkan transaksi yang telah dilakukan.

Dan juga, Bitcoin ini bersifat anonim karena tidak dikontrol oleh lembaga atau pemerintah manapun.

Cara Kerja Bitcoin

Untuk pengguna baru, terdapat cara sederhana untuk menggunakan Bitcoin.

Anda hanya perlu mengunduh aplikasi dompet Bitcoin di gadget, lalu selanjutnya Anda akan memiliki alamat Bitcoin yang dapat diberikan kepada siapa saja sehingga transaksi dapat berjalan.

Cara kerjanya mirip dengan email, kecuali alamat Bitcoin hanya bisa digunakan sekali.

Secara detail, dalam Bitcoin terdiri atas block chain, mining network, dan wallet. Untuk memahami cara kerja Bitcoin, ketiga bagian ini perlu Anda pahami dulu sebelumnya.

#1 Block Chain

Block chain adalah rekam data tiap transaksi Bitcoin yang pernah terjadi. Jika, transaksi belum masuk ke block chain, maka transaksi belum selesai.

Block chain merupakan rangkaian sebuah blok dan blok-blok tersebut berisi sekumpulan transaksi baru yang terhubung dengan blok sebelumnya.

Lalu siapa pihak yang mengelola block chain? Jawabannya adalah tidak ada.

Block chain dipegang oleh setiap komputer yang menambang Bitcoin.

#2 Mining Network

Para penambang Bitcoin (miner), adalah orang-orang yang menjaga transaksi lama dan memastikan transaksi baru tercatat.

Tugas para miner adalah membuat atau menambang blok-blok baru sebagai tempat penyimpanan transaksi baru yang terjadi.

Setelah itu, miner akan mendapatkan kompensasi berupa beberapa Bitcoin. Dengan begitu, akan selalu terdapat cukup miner untuk melakukan penambangan sehingga jaringan Bitcoin akan dapat terus berjalan.

#3 Wallet

Wallet adalah bagian Bitcoin yang akan sering dilihat oleh pengguna.

Namanya memang wallet (dompet), tetapi wallet tidak berfungsi sebagai tempat menyimpan Bitcoin melainkan hanya sebagai tempat menyimpan private key yang mengijinkan pemilik untuk menambah transaksi ke block chain.

Penjelasan pada ketiga bagian Bitcoin diatas merupakan garis besar tentang cara kerja Bitcoin.

Untuk penjelasan lebih detailnya Anda dapat membaca artikel lainnya di Finansialku.com/definisi-bitcoin-adalah/

Perkembangan Bitcoin

Ketersediaan Bitcoin terbatas sekitar 21 juta koin dan saat ini sudah ada 15 juta koin yang beredar.

Harga Bitcoin memang sudah berfluktuasi dengan ekstrem sejak diluncurkan. Pada tahun 2020, di Amerika 10 ribu bitcoin hanya bisa untuk membeli 2 potong pizza. Sekarang 1 Bitcoin sudah bernilai US$8.440 atau sekitar Rp116 juta.

Akan tetapi, saat ini sudah terdapat beberapa negara yang menyediakan ATM khusus Bitcoin yang memungkinkan cryptocurrency ditukarkan dengan uang tunai.

Lalu sudah semakin bertambah pula bisnis yang menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran. Salah satunya adalah La Mone yang meluncurkan bisnis properti mereka dengan harga dalam Bitcoin.

Salah satu pengembang properti di London juga memperbolehkan penyewa membayar deposito menggunakan Bitcoin.

Ada pula perusahaan di Jepang yaitu GMO Internet yang menggaji pegawainya dengan menggunakan Bitcoin.

Investasi dengan Bitcoin, Apakah Aman?

Walaupun sudah banyak negara dan perusahaan yang mengembangkan dan menggunakan Bitcoin karena dirasa menguntungkan, tetapi tidak sedikit pula yang mengalami kerugian saat berinvestasi dengan Bitcoin.

Pada tahun 2020, hampir 120 ribu Bitcoin yang bernilai sekitar US$78 juta dicuri dari Bitfinex yang berbasis di Hong Kong. Bitfinex padahal merupakan salah satu pertukaran cryptocurrency yang paling populer dan dipercaya.

Akibatnya, nilai Bitcoin mengalami penurunan hingga 20% pada saat itu.

Daniel Scott dari Coincorner mengatakan bahwa Bitcoin itu sendiri aman, tetapi masalahnya terdapat pada bisnis di industri dan tempat Bitcoin itu disimpan.

Menurutnya, keamanan TI adalah masalah serius yang dapat dialami oleh semua negara, bukan hanya untuk Bitcoin tetapi industri apapun yang menggunakan teknologi.

Semakin banyak hacker yang dapat meretas perusahaan besar sehingga perusahaan manapun memiliki risiko terlepas dari ukuran perusahaannya.

Terdapat setidaknya 3 alasan bahwa investasi Bitcoin tidaklah aman, 3 alasan tersebut diantaranya adalah:

#1 Berfluktuasi Sangat Tajam

Berinvestasi dengan Bitcoin memang memiliki risiko kegagalan yang sangat tinggi, karena harganya yang sangat fluktuatif.

Menurut Vivek Belgavi, ketua Fintech PwC, dalam Bitcoin tidak cukup banyak informasi yang memungkinkan analisis fundamental untuk mempelajarinya sebagai sebuah produk investasi.

Sehingga, orang–orang yang berinvestasi dengan Bitcoin tidak memiliki informasi yang sempurna dan bergabung dengan sekumpulan spekulan lainnya.

Lalu, harga Bitcoin ini tidak diatur sehingga semakin banyak orang yang memasuki pasar karena tergiur oleh harga yang sangat tinggi, pada masa mendatang harga akan naik lebih tinggi lagi.

Akibatnya, hal tersebut memungkinkan mengarah pada pembentukan gelembung yang suatu saat akan meledak dan menyebabkan kerugian untuk semua pihak.

#2 Bukan Merupakan Komoditas ataupun Mata Uang

Pada masa lalu, logam dengan harga tinggi seperti emas, perak dan lain-lain digunakan dan berfungsi sebagai mata uang. Lalu, setelah itu muncul mata uang yang dicetak oleh bank sentral (pemerintah) yang disebut dengan “Fiat Currency”.

Lain halnya dengan bitcoin, kejelasan akan asal-usulnya masih kurang jelas.

Bitcoin dapat ditambang dengan menggunakan formula matematika yang sangat kompleks, tetapi tidak membuatnya disebut dengan komoditas seperti emas.

Bitcoin juga tidak dikendalikan oleh pemerintah ataupun bank sentral manapun, sehingga membuat Bitcoin tidak termasuk dalam kategori mata uang.

Hal tersebut sangat berisiko untuk bisnis, industri, dan setiap pengguna Bitcoin karena itu hanya merupakan formula, tidak didukung oleh aset nyata tetapi hanya dengan tingkat permintaan saja.

#3 Legalitas Bitcoin

Untuk legalitas Bitcoin ternyata berbeda-beda di setiap negara. Karena bersifat anonim, seringkali Bitcoin dianggap sebagai alat transaksi untuk barang-barang ilegal seperti perdagangan narkoba dan pencucian uang.

Sebagian besar negara belum secara jelas membuat hukum tentang legalitas dari Bitcoin dan memilih pendekatan wait and see (tunggu dan lihat).

Baru terdapat beberapa negara yang melegalkan Bitcoin dan benar-benar mendukung perkembangan Bitcoin di negaranya. Beberapa negara yang melegalkan Bitcoin adalah Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, dan Australia.

Lalu, terdapat pula beberapa negara yang menolak keberadaan Bitcoin di negaranya karena dirasa Bitcoin tidaklah aman dan mengganggu kondisi moneter negara.

Negara-negara yang menolak dan melarang Bitcoin di antaranya adalah Islandia, Vietnam, Bolivia, Kirgistan, Ekuador, Rusia, dan Cina.

Lalu, Bagaimana dengan Investasi Bitcoin di Indonesia?

Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral Indonesia melarang tegas penggunaan Bitcoin baik untuk investasi maupun transaksi. BI percaya bahwa adanya Bitcoin akan mengganggu stabilitas ekonomi yang mencakup moneter, keuangan, dan sistem pembayaran.

BI mengimbau melalui undang-undang agar tidak ada perusahaan atau industri apapun yang menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di Indonesia.

Jika Anda sudah memiliki Bitcoin saat ini, BI tak memiliki perlindungan hukum atas hal tersebut, sehingga untung dan ruginya 100% ditanggung oleh pemilik bitcoin. Oleh karena itu, BI meminta menghentikan penggunaan bitcoin sebelum akhirnya hal yang dikhawatirkan terjadi.

Menurut Oscar Darmawan dari komunitas Bitcoin Indonesia, kurang tepat bahwa Bitcoin dikatakan melanggar undang-undang, karena menurutnya Bitcoin lebih bersifat sebagai media transfer pada saat transaksi.

Meskipun begitu, Oscar mengatakan bahwa pemahaman mengenai Bitcoin di Indonesia masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa investasi Bitcoin di Indonesia tidaklah terlalu aman karena pemerintah sendiri yang diwakili oleh Bank Indonesia akan melarang transaksi dalam bentuk Bitcoin. Sehingga untung dan rugi benar-benar Anda yang menanggungnya.

Jika Anda masih ragu, Anda dapat tanyakan lebih lanjut kepada konsultan keuangan di Finansialku.

Peringkat broker opsi biner:
Di mana menginvestasikan uang
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: