Kenapa Uang Digital Dilarang Terpopuler

Peringkat broker opsi biner:
Contents

Nilai uang digital meroket hampir 800% dalam sebulan, dan bukan Bitcoin

Bagikan artikel ini dengan

Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru

Kopi tautan ini

Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru

Bitcoin bukan satu-satunya mata uang digital walau paling banyak mendapat perhatian setelah peningkatan nilainya yang luar biasa dengan mencapai US$15.000 atau sekitar Rp203 juta pada awal Desember.

Namun sebenarnya ada uang digilta lainnya -walau kurang terkenal- yang juga menikmati peningkatan nilai besar di pasar mata uang digital, yang masih belum diatur oleh otorita keuangan.

Peringkat broker opsi biner:

Namanya MIOTA yang disebut sebagai produk investasi yang dirancang untuk ‘barang internet’.

Sejak awal November, nilai MIOTA naik sekitar 774% dan peningkatan itu membuat kapitalisasinya ikut meroket menjadi US$12 miliar, yang menjadikannya masuk dalam lima besar mata uang digital dunia, menurut situs berita keuangan MarketWatch.

Kajian atas nilai mata uang digital ini dipicu laporan-laporan bahwa sejumlah perusahaan teknologi sedang bekerja sama dengan IOTA -sebuah lembaga nonpemerintah yang menciptakan MIOTA- untuk menyusun sebuah data pasar.

Salah seorang pendiri IOTA, David Sonstebo, mengatakan gagasan itu akan mendorong saling berbagi data dan menghindari terbuangnya informasi.

Uang digital

Peningkatan dari 3 November hingga 6 Desember 2020

$5,34 Nilai tertinggi per unit yang dicapai IOTA (6 Desember)

$13.000 Nilai Bitcoin per pada tanggal yang sama

“IOTA menggairahkan gagasan berbagi data lewat transaksi gratis. Gagasan itu akan menjadi semacam katalisator bagi paradigma baru dari riset, kecerdasan buatan, dan demokratisasi data,” jelas Sonstebo dalam pernyataannya bulan lalu.

Bagaimanapun MIOTA masih tergolong mini dibanding Bitcoin jika dilihat dari nilai per unit. Menurut situs Cryptocurrencychart.com, nilai MIOTA US$4,5 per unit pada tanggal 6 Desember 2020 sementara Bitcoin mencapai US$12.963.

Pertumbuhan yang kontroversial

Berbeda dengan mata uang konvensional, maka uang digital merupakan cerminan dari nilai yang dibuat oleh lembaga atau pemerintah tertentu.

Cara utama untuk mendapatkan uang digital adalah membelinya dengan uang biasa, sebagai pembayaran atas produk dan layanan yang diberikan perusahaan bersangkutan atau untuk investasi atas uang digital tersebut.

Metode itu mencerminkan bahwa pasar mata uang digital tidak punya peraturan yang tegas karena semata-mata tergantung pada investor bersangkutan, yang umumnya merupakan pihak swasta.

Bitcoin

Emas digital

Peningkatan 3 November hingga 6 Desember 2020

17.000% Peningkatan per unit sejak 2020

$286,85 billion Kapitalisasi Bitcoin pada 13 Desember 2020

Terlepas dari tidak adanya peraturan, uang digital memperlihatkan pertumbuhan pesat: Bitcoin -yang sering dijuluki ‘emas digital’- misalnya menikmati peningkatan nilai sampai 1.200% sepanjang tahun 2020.

Bagaimanapun sejumlah pengamat yakin bahwa uang digital akan menjadi salah satu ‘gelembung kosong’ keuangan yang terbesar sepanjang sejarah, yang pada waktunya akan meletus tanpa ada nilainya.

Salah seorang yang meragukan uang digital itu adalah peraih Nobel Ekonomi, Joseph Stigtlitz.

“Kenapa orang ingin Bitcoin atau mata uang alternatif? Alasan utamanya adalah untuk terlibat dalam kegiatan kotor, seperti pencucian uang dan penggelapan pajak,” jelasnya dalam wawanara dengan BBC beberapa waktu lalu.

Walau muncul sejumlah peringatan, para investor tetap saja mengambil risiko dalam pertumbuhan mata uang digital, yang mencerminkan prinsip lama: ‘semakin tinggi risikonya, semakin tinggi untungnya’.

Kamis 25 Jan 2020 15:46 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Uang digital disebut sebagai turunan sistem moneter fiat murni karena berdasarkan pada ledger sistem keuangan dengan sokongan teknologi informasi (TI). Karena itu, uang digital dikhawatirkan membawa ketidakstabilan sistem keuangan lebih besar dan kezaliman.

Direktur Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Syariah (CIBEST) IPB, Irfan Syauqi Beik, menjelaskan, uang digital semacam bitcoin adalah fenomena sistem moneter baru. Dari empat sistem moneter yang berkembang, Irfan melihat sistem moneter digital ini adalah derivat dari sistem moneter fiat murni yang didukung TI. Uang digital merupakan teknologi yang membuka ledger sistem keuangan.

”Saya lihat ini berpotensi menimbulkan banyak persoalan. Semoga bukan seperti fenomena batu akik yang nilainya naik tiba-tiba tanpa bisa dijelaskan,” kata Irfan saat memberikan pandangan dalam diskusi terfokus tentang uang virtual di Cikini, Jakarta pada Kamis (25/1).

Kalau bicara uang, harus ada kegiatan ekonomi yang mendasarinya dan lekat dengan sektor riil. Kalau tidak, akan ada kezaliman dan ketidakadilan. Kelompok masyarakat berpendapatan tetap harus memacu produktivitas karena nilai uangnya terus turun secara sistemik.

”Kalau tidak ada underlying dan menempel dengan sektor riil, ini memperparah ketidakseimbangan keuangan dan riil,” ucap Irfan.

Sekaranga, tinggal bagaimana respons syariah agar sistem ini tetap menempel pada sektor riil jika kelak mau diakui. Juga bagiamana menjaga kestabilannya.

Namun Irfan skeptis. Sebab, sistem moneter fiat di pasar keuangan yang tidak sesuai syariah saja menimbulkan ketidakseimbangan, apalagi turunannya. Harus ada respons agar uang digital tidak merusak sistem keuangan.

Setelah sistem moneter emas dan perak di zaman Rasulullah ditinggalkan, sistem moneter yang berkembang adalah sistem moneter ditopang emas yang saat ini hanya digunakan oleh Swiss. Saat emas tak lagi dijadikan acuan, sistem moneter yang berkembang adalah sistem moneter fiat murni.

Pada sistem moneter fiat murni, uang bergerak sesukanya. Yang jadi ‘pembenaran’ adalah keputusan yang diakui adalah kepala bank sentral sehingga uang kertas itu punya nilai. Ini saja menciptakan ketidakadilan karena nilainya terus turun, padahal seharusnya stabil.

Munculnya sistem moneter ditopang aset yang diusung keuangan syariah menunjukkan daya tahan sistem lebih baik. Sebab, uang tidak bisa keluar dari sistem keuangan tanpa dilandasi aset melalui akad yang didasari sektor riil.

”Sistem ini membendung ketidakseimbangan sektor keuangan dan riil. Kalau tidak seimbang, bahaya dan merugikan,” kata Irfan.

Karena itu, bila sistem keuangan ingin stabil, sistem moneter ditopang aset ini harus dikuatkan. Hal itu jadi kelebihan keuangan syariah.

Peringkat broker opsi biner:
Di mana menginvestasikan uang
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: