Strategi Laba Pengembalian Berarti –

Peringkat broker opsi biner:

ANONYMUSE

Pengertian Manajemen Laba

Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai “investasi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi” (Schipper,1989). Sering kali proses ini mencakup proses mempercantik laporan keuangan, terutama angka yang paling bawah, yaitu laba. Manajemen laba dapat berupa kosmetik, jika manajer memanipulasi akrual yang tidak memiliki konsekuensi arus kas. Manajemen laba juga dapat terlihat nyata, jika manajer memilih tindakan dengan konsekuensi arus kas dengan tujuan mengubah laba. Manajemen kosmetik laba merupakan hasil dari kebebasan dalam aplikasi akuntansi akrual yang mungkin terjadi.

Standar akuntansi dan mekanisme pengawasaan mengurangi kebabasan ini. Lagipula, akutansi akrual membutuhkan estimasi dan penilaian. Hal ini menyebabkan kebebasan manajer dalam menetapkan angka akuntansi. Meskipun kebebasan ini memberikan kesempatan manajer untuk menyajukan gambaran aktivitas perusahaan yang lebih informatif, kebebasan ini juga memungkinkan mereka mempercantik laporan dan melakukan manajemen laba. Insentif untu melakukan manajemen laba juga memengaruhi keputusan investasi dan pendanaan. Manajemen laba yang murni ini lebih bermasalah dibandingkan manajemen laba kosmetik karena mencerminkan keputusan usaha yang seringkali mengurangi kekayaan pemegang saham.

Strategi Manajemen Laba

Terdapat tiga jenis manajemen laba yaitu:

  1. Meningkatkan laba. Salah satu strategi menejemen laba adalah menigkatkan laba yang dialaporkan pada periode kini untuk perusahaan dipandang lebih baik. Cara ini jug memungkinkan peningkatan laba selama beberapa periode. Pada scenario pertumbuhan, akrual pembalik lebih kecil dibandingkan akrual kini, sehingga dapat meningkatkan laba. Selain itu, perusahaan dapat melakukan manajemen untuk melakukan laba selama beberapa tahun dan kemudian membalik akrual sekaligus pada satu saat pembebanan. Pembebanan satu saat ini seringkali dilaporkan “dibawah laba bersih” (below the line), sehingga dipandang tidak terlalu relevan.
  2. Big bath. Strategi big bath dilakukan melalui penghapusan (write-off) sebanyak mungkin pada satu periode. Periode yang dipilih adalah biasanya periode dengan kinerja yang buruk (seringkali pada masa resesi di mana perusahaan lain juga melaporkan laba yang buruk) atau peristiwa saat terjadi satu kejadian yang tidak biasa seperti perubahan manajemen, merger, atau restrukturisasi. Strategi big bath juga sering kali dilakukan setelah strategi peningkatan laba pada periode sebelumnya. Oleh karena sifat big bath yang tidak biasa dan tidak berulang, pemakai cenderung tidak memperhatikan dampak keuangannya. Hal ini memberikan kesempatan untuk mengahpus semua dosa masa lalu dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan laba di masa depan.
  3. Perataan laba. Pada startegi ini, manajer meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fkuktuasinya. Perataan laba juga mencakup tidak melaporkan bagian laba pada periode baik dengan menciptakan cadangan atau “bank” laba dan kemudian melaporkan laba ini saat periode buruk. Banyak perusahaan menggunakan manajemen laba ini.

Kualiatas Laba Vs Manajemen Laba

Laba (income disebut juga earnings atau profit) merupakan ringkasan hasil bersih aktivitas opersai perusahaan dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam istilah keuangan. Menentukan dan menjelaskan laba suatu perusahaan pada satu periode merupakan tujuan utama laporan laba rugi. Pada konsepnya laba ditugaskan untuk menyediakan, perubahan kekayaan pemegang saham selama periode maupun mengestimasi laba usaha sekarang, yaitu sampai sejauh mana perusahaan dapat menutupi biaya operasi dan menghasilkan pengembalian kepada pemegang sahamnya.

Didalam kualitas laba, kualitas laba mengacu pada relevansi laba dalam mengukur tingkat kinerja perusahan. Penentu kualitas laba mencakup lingkungan usaha perusahaan dan prinsip akuntansi yang dipilih dan diaplikasikan oleh perusahaan. Bagian ini memepertimbangkan tiga faktor yang biasanya diidentifikasikan sebagai penentu kualitas laba yaitu, Prinsip akuntansi, Aplikasi akuntansi dan Resiko usaha. Selain itu, penentu kualitas laba lainnya adalah kebebasan manajemen dalam menerapkan dan memilih prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku. Jadi, Manajemen memiliki kebebasan terhadap jumlah laba yang dilaporkan melalui aplikasi prinsip akuntansi untuk menentukan pendapatan dan beban.

Sedangkan manajemen laba dapat didefinisikan sebagai “investasi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi” (Schipper,1989). Sering kali proses ini mencakup proses mempercantik laporan keuangan, terutama angka yang paling bawah, yaitu laba. Terlihat jelas bahwa perbedaannya adalah konsep laba ekonomi lebih berfokus pada perhitungan laba yang sesungguhnya.

Peringkat broker opsi biner:

Standar akuntansi dan mekanisme pengawasaan mengurangi kebabasan ini. Lagipula, akutansi akrual membutuhkan estimasi dan penilaian. Hal ini menyebabkan kebebasan manajer dalam menetapkan angka akuntansi. Meskipun kebebasan ini memberikan kesempatan manajer untuk menyajikan gambaran aktivitas perusahaan yang lebih informatif, kebebasan ini juga memungkinkan mereka mempercantik laporan dan melakukan manajemen laba.

Motivasi Melakukan Manajemen Laba

Banyak alasan untuk melakukan manajemen laba, termasuk meningkatkan kompensasi manajer yang terkait dengan laba, meningkatkan harga saham, dan usaha mendapatkan subsidi dari pemerintah dll. Berikut beberapa motivasi dari manajemen laba:

1. Bonus

Pemberian bonus seringkali dikaitkan dengan tingkat laba bersih yang dihasilkan pada tahun yang bersangkutan. Manajer akan berusaha mengatur laba bersih sedemikian rupa sehingga dapat memaksimalkan bonusnya. Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan yang sebenarnya akan bertindak oportunis untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini ataupun menyimpannya untuk tahun-tahun yang akan datang.Dalam pemberian bonus berdasarkan atas laba ini, dikenal dua istilah, bogey (batas bawah) yang terkadang juga disebut floor dan cap (batas atas).

Bogey adalah target laba minimum yang menjadi syarat agar manajer dapat memeroleh bonus atas kinerjanya. Besarnya bonus yang diperoleh tersebut akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya laba tahun yang bersangkutan, selama laba tersebut berada dalam batasan atau di antara bogey dan cap. Sedangkan cap adalah target laba maksimum dimana jika laba tahun yang bersangkutan melebihi target laba ini, manajer tidak akan mendapat tambahan bonus secara proporsional atas selisih laba dengan target laba ini.

Teori dan hasil penelitian yang telah dilakukan menjelaskan bahwa para manajer akan cenderung memaksimalkan bonusnya dengan memanipulasi data keuangan dalam rangka meningkatkan laba, misalnya dengan memindahkan laba periode mendatang ke periode saat ini, selama laba tersebut dalam batasan bogey dan cap. Jika laba (sebelum direkayasa) berada di atas cap, maka manajer akan cenderung menurunkan laba agar dapat menyimpannya dan menggunakannya untuk memeroleh tambahan bonus pada tahun-tahun berikutnya. Jika laba (sebelum direkayasa) berada di bawah bogey, maka ada dua kemungkinan manipulasi yang dilakukan manajer.

Pertama, saat laba (sebelum direkayasa) berada tidak terlalu jauh di bawah bogey, maka manajer mungkin akan meningkatkan laba untuk memeroleh bonus. Namun, jika laba (sebelum direkayasa) berada terlalu jauh di bawah bogey, maka manajer akan cenderung menurunkan laba agar dapat menyimpannya untuk memeroleh tambahan bonus pada tahun-tahun berikutnya, selama laba yang dilaporkan masih positif. Jika laba (sebelum direkayasa) berada di antara bogey dan cap, manajer akan cenderung meningkatkan laba untuk mengoptimalkan bonus yang mereka terima.

2. Perjanjian Utang

Janes (2003) dalam Herawati (2007) menjelaskan perjanjian utang dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk, sebagai perjanjian negatif dan perjanjian positif .Perjanjian negatif umumnya menunjukkan aktivitas tertentu yang mengakibatkan substitusi aset atau masalah pembayaran kembali.Contoh perjanjian utang negatif adalah larangan terhadap merger, batasan peminjaman tambahan, dan batasan pembayaran dividen.

Perjanjian positif mensyaratkan peminjam melakukan tindakan tertentu, seperti menjaminkan aset atau memenuhi target rasio-rasio keuangan tertentu yang mengindikasikan kesehatan keuangan.Contoh umum perjanjian utang positif adalah tingkat rasio current, leverage, probabilitas dan net worth minimal atau maksimum.Perjanjian utang baik bentuk negatif maupun positif tersebut dapat digunakan sebagai upaya untuk membatasi konflik kepentingan yang potensial terjadi antara kreditor dengan para pemegang saham maupun manajemen perusahaan.

Pelanggaran atas perjanjian utang secara potensial menghadapi berbagai pinalti keuangan, seperti kemungkinan percepatan jatuh tempo utang, peningkatan dalam tingkat bunga, penyerahan jaminan, ataupun negosiasi ulang masa utang. Dalam rangka menghindari risiko berbagai pinalti tersebut, manajer akan cenderung menaikkan laba bersih untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran atas perjanjian utang.

Semakin dekat suatu perusahaan ke pelanggaran hutang, manajemen akan cenderung memilih prosedur akuntansi yang dapat memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan, yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami pelanggaran atas perjanjian utang.

3. Biaya Politis

Pemerintah menetapkan besarnya pajak berdasarkan laba perusahaan secara progresif.Hal ini menyebabkan pajak sebagai salah satu alasan perusahaan melakukan manajemen laba, yaitu dengan menurunkan laba bersih yang dilaporkan untuk meminimalkan pajak yang harus dibayarkan perusahaan kepada pemerintah.

Selain motivasi pajak, motivasi politis lain mungkin menjadi sebab perusahaan melakukan manajemen laba dengan menurunkan laba bersih yang dilaporkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya agar perusahaan tidak terlihat mencolok bagi masyarakat ataupun pemerintah sebagai regulator sehingga mendorong munculnya peraturan yang lebih ketat. Motivasi ini terutama terjadi pada perusahaan-perusahaan besar pada industri strategis.

4. Penawaran Saham Perdana (IPO) dan Penawaran Saham Musiman (SEO)

Pada penawaran saham perdana dan penawaran saham musiman, laporan keuangan merupakan sumber informasi utama yang penting bagi calon investor. Manajer perusahaan yang go public akan cenderung melakukan manajemen laba untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas saham perdananya dengan harapan mendapatkan respons positif dari investor terhadap peramalan laba sebagai sebuah sinyal dari nilai perusahaan, begitu pula dalam hal penawaran saham musiman.

5. Harga Saham

Sifat dasar manusia adalah menyukai keuntungan dan menghindari risiko. Perusahaan yang dipandang investor memiliki pendapatan yang tinggi cenderung akan mengalami kenaikan pada harga sahamnya. Selain itu, investor juga akan memberi harga yang lebih tinggi atas saham perusahaan yang labanya tidak terlalu bergejolak yang menandakan kecilnya tingkat risiko.

Bagi perusahaan, harga saham yang tinggi dapat meningkatkan nilai pasarnya, sedangkan bagi manajer yang memiliki saham perusahaan, harga saham yang tinggi akan meningkatkan kekayaan pribadinya. Selain itu, untuk menghindari penurunan harga saham secara tajam, laba mungkin akan disesuaikan menurut ramalan atau prediksi di pasar modal. Hal-hal tersebut juga dapat menjadi motivasi yang mendorong manajer melakukan manajemen laba.

6. Pergantian CEO (Chief Executive Officer)

Banyak motivasi yang muncul berkaitan dengan CEO. CEO yang mendekati masa pensiun akan berusaha meningkatkan bonusnya dengan meningkatkan laba. CEO yang kurang berhasil memperbaiki kinerjanya, berusaha menghindari pemecatannya dengan meningkatkan laba. CEO baru untuk menunjukkan kesalahan dari CEO sebelumnya dan membuka peluang agar laba periode mendatang meningkat, membebankan biaya periode mendatang pada periode berjalan yang otomatis akan menurunkan laba periode berjalan. Hal-hal tersebut pun dapat menjadi motivasi manajer untuk melakukan praktik-praktik manajemen laba.

Pengertian Manajemen Laba Menurut Para Ahli

Manajemen Laba – Pengertian Menurut Para Ahli, Teori, Sasaran, Faktor, Motivasi, Teknik & Strategi – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Manajemen Laba yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian menurut para ahli, untuk lebih memahami dan mengerti simak ulasan dibawah ini.

Pengertian Manajemen Laba

Daftar Isi Artikel Ini :

Manajemen laba adalah sebagai suatu proses mengambil langkah yang disengaja dalam batas prinsip akuntansi yang berterima umum baik itu didalam maupun diluar batas General Accepted Accouting Principle (GAAP). Copeland (1968: 10) dalam utami (2005) mendefinisikan manajemen laba sebagai “some ability to increase or decrease reported net income at will”. ini berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba termasuk perataan laba, sesuai dengan keinginan manajer. Scott (2000) dalam Rahmawati dkk (2006) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.

  • Pertama
    Melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs ( opportunistic earnings management ).
  • Kedua
    Dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting ( efficient earnings management ) dimana manajemen laba member manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan kata lain manajer dapat mempengaruhi nilai pasar dalam suatu perusahaannya yang melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba ( income smoothing ) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

Pengertian Manajemen Laba Menurut Pada Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian manajemen laba menurut para ahli, terdiri atas:

Yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal untuk memperoleh beberapa keuntungan privat ( sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut ).

Menajemen laba ialah suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Addopted Accounting Principles ( GAAP ) untuk mengarah pada tingkatan laba yang dilaporkan.

Manajemen laba ialah tindakan manajer yang menaikkan ( menurunkan ) laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.

Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgement dalam laporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan, sehingga menyesatkan stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi.

Manajemen laba ialah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan memiliki tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. manajemen laba ialah salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat menggangu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Laporan Laba Rugi

Manajemen laba merupakan area yang controversial dan penting dalam akuntansi keuangan. Manajemen laba tidak selalu diartikan sebagai suatu upaya negative yang merugikan karena tidak selamanya manajemen laba berorientasi pada manipulasi laba. Manajemen laba tidak selalu dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau informasi akuntansi.

Tetapi lebih condong dikaitakan dengan pemilihan metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dalam batasan GAAP. Pihak-pihak yang kontra terhadap manajemen laba, menganggap bahwa manajemen laba merupakan pengurangan dalam keandalan informasi yang cukup akurat mengenai laba untuk mengevaluasi return dan resiko portofolionya.

Teori Keagenan (Agency Theory)

Timbulnya manajemen laba dapat dijelaskan dengan teori agensi. Sebagai agen, manajer secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal) dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak.

Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda didalam perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya. Ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Asimetri antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) dalam rangka menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi perusahaan menunjukkan adanya hubungan positif antara asimetri informasi dengan manajemen laba.

Sasaran Manajemen Laba

Menurut Ayres (1994:27-29) terdapat unsur-unsur laporan keuangan yang dapat dijadikan sasaran untuk dilakukan manajemen laba yaitu :

Kebijakan Akuntansi

Keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang wajib diterapkan oleh suatu perusahaan, yaitu antara menerapkan akuntansi lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.

Pendapatan

Dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan.

Biaya

Menganggap sebagai beban/ biaya atau menganggap sebagai suatu tambahan investasi atas suatu biaya (amortize or capitalize of investment).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Manajemen Proyek

Alasan Dilakukan Manajemen Laba

Alasan dilakukan manajemen laba karena:

  1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer. Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha suatu organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba dikaitkan dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer.
  2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinyadengan membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan memberi posisi bargaining yang relatif baik dalam negoisasi atau penjadwalan ulang utang antara pihak kreditor dengan perusahaan.
  3. Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba

Dalam Positif Accounting Theory terdapat tiga faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen laba ( Watt dan Zimmerman, 1986 ) yaitu :

Bonus Plan Hypothesis

Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan laba lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.

Debt Covenant Hypothesis

Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba ( Sweeney 1994 dalam Rahmawati dkk, 2006 ). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.

Political Cost Hypothesis

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan misalnya ; mengenakan peraturan antitrust menaikkan pajak pendapatan perusahaan dan lain-lain.

Motivasi Manajemen Laba

Scott (2006: 344) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunis manajer untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang, dan political costs (oportunistic Earnings Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management),

dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

Definisi manajemen laba yang hampir sama juga diungkapkan oleh Schipper (1989) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut).

Aktivitas laba dapat terjadi karena tiga faktor yaitu dengan cara: pemanfaatan transaksi akrual, perubahan metoda akuntansi, dan penerapan suatu kebijakan. Scott (2006: 346-355) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba adalah sebagai berikut:

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Sistem Pengendalian Manajemen

Motivasi Program Bonus

Healy (1985) menunjukkan secara empiris bahwa sebelum melakukan manajemen laba, manajer mempunyai informasi dari dalam perusahaan atas laba bersih perusahaan. Penelitian ini juga menunjukkan kecenderungan manajemen yang secara oportunistik mengelola laba bersih untuk memaksimalkan bonus mereka berdasarkan program kompensasi perusahaan. Healy (1985) berusaha untuk membuktikan dan memprediksi metoda akuntansi yang akan dipilih manajer.

Penelitian ini merupakan perluasan dari bonus plan hypothesis. Jika pada suatu tahun tertentu laba bersih perusahaan rendah (di bawah bogey) maka tindakan manajer adalah menurunkan pendapatan, sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih rendah (taking a bath) yang bermaksud untuk mencapai bonus pada tahun berikutnya. Sedangkan jika pada satu tahun tertentu laba bersih perusahaan tinggi (diatas cap) maka tindakan yang dilakukan manajer adalah menurunkan pendapatan, sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih rendah.

Tindakan ini dilakukan karena manajer tidak akan mendapatkan bonus yang lebih tinggi dari target yang telah ditentukan. Intinya manajer akan melakukan manajemen laba pada saat laba bersih berada diantara bogey dan cap. Penelitian yang telah dilakukan oleh Cheng dan Warfield (2005) menguji hubungan antara manajemen laba dengan insentif ekuitas. Hasilnya adalah insentif ekuitas berkorelasi positif dengan manajemen laba. Artinya, semakin tinggi insentif ekuitas yang diberikan kepada manajer, semakin tinggi kejadian manajemen laba yang dilakukan oleh manajer.

Ini terkait hubungan antara kompensasi yang berdasarkan saham dan elemen insentif ekuitas lain dengan insentif manajer untuk meningkatkan harga saham jangka pendek. Hasil penelitian Beneish dan Vargus (2002) menunjukkan bahwa periode di mana akrual sangat tinggi berhubungan dengan penjualan saham oleh insiders. Di waktu yang sama laba dan return saham yang rendah mengikuti periode di mana terdapat akrual tinggi yang disertai penjualan oleh insiders. Bergstresser dan Philippon (2006) menguji hubungan antara manajemen laba dan CEO insentif dengan menggunakan pendekatan discretionary accruals model Jones.

Motivasi Politik (Political Motivations)

Perusahaan besar yang aktivitasnya berhubungan dengan publik atau perusahaan yang bergerak dalam industri strategis seperti minyak dan gas akan sangat mudah untuk diawasi. Perusahaan seperti ini cenderung untuk mengelola labanya. Pada perioda kemakmuran perusahaan menggunakan prosedur dan praktik-praktik akuntansi yang meminimalkan laba bersih perusahaan. Sebaliknya, publik akan mendorong pemerintah untuk meningkatkan peraturan untuk menurunkan profitabilitas mereka.

Contoh hasil penelitian yang lain pada industri perbankan, yaitu tingkat manajemen laba dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah regulasi perbankan tentang tingkat kesehatan, regulasi perbankan tentang kehati-hatian serta adanya asimetri informasi yang merupakan peluang untuk dapat melakukannya (Rahmawati 2006).

Motivasi Perpajakan (Taxation Motivations)

Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Namun demikian, kewenangan pajak cenderung untuk memaksakan aturan akuntansi pajak sendiri untuk menghitung pendapatan kena pajak. Seharusnya secara umum perpajakan tidak mempunyai peran besar dalam keputusan manajemen laba. Penelitian Maydew (1997) membuktikan bahwa penghematan pajak menjadi insentif bagi manajer (khususnya manajer yang mengalami net operating loss pada tahun 1986-1991) untuk mempercepat pengakuan biaya dan menunda pengakuan pendapatan.

Di USA, perusahaan yang mengalami net operating loss diijinkan untuk mengkompensasi rugi operasi tersebut dengan laba tiga tahun sebelumnya (atau dengan laba 15 tahun yang akan datang). Dampak dari kompensasi rugi terhadap laba adalah restitusi pajak. Perubahan tingkat pajak pada tahun 1987 di Amerika akibat TRA (tax reform act) adalah akibat memaksimalkan restitusi pajak yang didapatkan dari perusahaan mengalami kerugian pada tahun 1986-1991, karena restitusi tersebut didasarkan atas tarif pajak yang berlaku pada tahun pajak ditarik. Guenther (1994) menginvestigasi pengaruh publikasi TRA terhadap perusahaan di Amerika.

Berbeda dengan Maydew, Guenther memilih mengevaluasi perusahaan yang tidak mengalami net operating loss. Penelitian Guenther berhasil membuktikan bahwa tingkat akrual perusahaan besar relatif lebih rendah dibanding tingkat akrual perusahaan kecil. Aktivitas manajemen laba dengan motivasi pajak dapat terdeteksi dengan book-tax differences, yaitu dilakukan dengan cara menaikkan kewajiban pajak tangguhan bersih (yaitu kewajiban pajak tangguhan dikurangi aktiva pajak tangguhan bersih), dan mengakibatkan naiknya beban pajak tangguhan (deferred tax expense).

Pendapat ini konsisten dengan Phillips et al. (2003) yang membuktikan bahwa beban pajak tangguhan, yang merupakan wakil empirik untuk book-tax differences, menghasilkan total akrual dan ukuran abnormal akrual dalam mendeteksi manajemen laba untuk menghindari laba menurun. Selanjutnya Phillips et al. (2004), Rahmawati dan Solikhah (2008), serta Subekti dkk. (2008) menggunakan komponen-komponen perubahan dalam aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan untuk mendeteksi manajemen laba untuk menghindari laba menurun.

Motivasi Perubahan Chief Executif Officer (Changes of CEO Mativations)

Manajemen laba juga terjadi disekitar waktu pergantian CEO. Hipotesis program bonus memprediksi bahwa ketika waktu mendekati pengunduran diri CEO maka tindakan yang dilakukan adalah memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonus mereka. Sedangkan CEO yang kinerjanya buruk akan melakukan manajemen laba untuk memaksimalkan laba mereka dengan tujuan mencegah atau menunda pemberhentian mereka. Motivasi melakukan manajemen laba juga dapat dilakukan oleh CEO baru, terutama jika cost dibebankan pada tahun transisi, melalui penghapusan operasi yang tidak diinginkan atau divisi yang tidak menguntungkan.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Laba Adalah

Initial Public Offering (IPO)

Perusahaan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer perusahaan tersebut melakukan manajemen laba dalam prospektus mereka. Nampaknya informasi akuntansi keuangan yang dimasukkan dalam prospektus bermanfaat sebagai sumber informasi. Terdapat kemungkinan bahwa manajer perusahaan go public akan mengelola prospektusnya dengan harapan dapat menaikkan harga saham.

Motivasi Perjanjian Utang (Debt Covenants Motivations)

Manajemen laba dengan tujuan untuk memenuhi perjanjian utang timbul dari kontrak utang jangka panjang. Perjanjian utang bertujuan melindungi peminjam terhadap tindakan manajer. Pelanggaran terhadap covenant mengakibatkan cost yang tinggi terhadap perusahaan, oleh karena itu manajer berusaha untuk menghindari terjadinya pelanggaran terhadap covenant.

Teknik Manajemen Laba

Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen laba pada laporan keuangan yaitu:

Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Cara ini merupakan cara manajer untuk mempengaruhi laba melalui judgement terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain.

Mengubah metode akuntansi

Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: mengubah metoda depresiasi aktiva tetap, dari metoda depresiasi angka tahun ke metoda depresiasi garis lurus.

Menggeser perioda biaya atau pendapatan

Beberapa orang menyebutkan rekayasa jenis ini sebagai manipulasi keputusan operasional. Contoh: rekayasa perioda biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat atau menundapengeluaran untuk penelitian sampai perioda akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai perioda akuntansi berikutnya, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai, dan lain-lain.

Bentuk Strategi Manajemen Laba

Strategi untuk membuat manajemen laba antara lain:

Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Cara manajemen untuk mempengaruhi laba melalui judgement terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tidak tertagih (Rahmawati 2006, 2007), estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, dan estimasi biaya garansi.

Mengubah metode akuntansi

Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: merubah metode depresiasi aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus. Strategi manajemen laba dengan pemilihan metoda akuntansi dan pengaturan waktu transaksi mempengaruhi manajemen laba dengan proksi akrual kelolaan (Rahmawati dkk., 2009). Semakin besar manajemen laba dengan menggunakan strategi pemilihan metoda dan pengaturan waktu transaksi semakin besar pula manajemen laba (yang diproksikan dengan akrual kelolaan).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Manajemen Keuangan adalah

Menggeser periode biaya atau pendapatan

Beberapa orang menyebut rekayasa jenis ini sebagai manipulasi keputusan operasional (Fischer dan Rosenzweig, 1995; Bruns dan Merchant, 1990). Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian sampai periode akuntansi berikutnya (Daley dan Vigeland, 1993), mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode akuntansi berikutnya, kerja sama dengan vendor untuk mempercepat atau menunda pengiriman tagihan sampai periode akuntansi berikutnya,

mempercepat atau menunda pengiriman produk ke pelanggan, menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai (Bartov, 1993; Black, Dellers, dan Manly, 1998). Perusahaan yang mencatat persediaan menggunakan asumsi LIFO, juga dapat merekayasa peningkatan laba melalui pengaturan saldo persediaan (Frankel dan Trezervant, 1994).

Demikianlah pembahasan mengenai Manajemen Laba – Pengertian Menurut Para Ahli, Teori, Sasaran, Faktor, Motivasi, Teknik & Strategi semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. �� �� ��

Peringkat broker opsi biner:
Di mana menginvestasikan uang
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: