Strategi Perdagangan Ibs – Tantangan dan Peluang Bisnis Startup di Indonesia Tahun – Indonesia

Peringkat broker opsi biner:

Tantangan dan Peluang Bisnis Startup di Indonesia Tahun 2020

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perkembangan startup di Indonesia mengalami kondisi “pasang surut” yang dinamis. Artinya, di balik pertumbuhan beberapa startup yang tampak signifikan, ada juga kegagalan yang menimpa para pelakunya di beragam sektor bisnis.

Tahun 2020 juga diprediksi punya faktor-faktor penentu bagi perjalanan berbagai startup di Indonesia. Apa saja faktor-faktor tersebut? Berikut sejumlah beberapa tantangan dan peluang yang akan dihadapi startupIndonesia di tahun 2020.

Tantangan: fintech lending bakal hadapi pengawasan lebih ketat

Ranah startup fintech, terutama untuk kategori pinjam-meminjam (lending), terus mengalami perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan OJK (per September 2020), startup fintech lending telah menyalurkan Rp13,8 triliun dana pinjaman ke seluruh daerah Indonesia selama 2020.

Angka tersebut memperlihatkan peningkatan lebih dari 400 persen dalam kurun waktu setahun. Pada 2020 lalu, OJK mencatat distribusi pinjaman dari sektor ini baru menggapai angka Rp3 triliun.

Namun di balik pertumbuhannya, sektor pinjaman (terutama kategori balance sheet lending) sempat tercoreng citra buruk yang dilakukan segelintir oknum. Hal tersebut tampak dari menjamurnya keberadaan startup fintechtak terdaftar di OJK, yang kemudian berujung pada ratusan aduan penipuan terkait fintech yang diterima YLKI hingga November 2020 silam.

Situasi ini mendorong Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mendirikan badan baru, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), yang diketuai CEO sekaligus Co-founder Investree Adrian A. Gunadi.

AFPI menjadi wadah bagi para pemain fintech lending Indonesia untuk menyepakati beberapa hal penting di ekosistem mereka. Beberapa hal yang akan disuarakan asosiasi ini antara lain:

Peringkat broker opsi biner:
  • Batasan maksimal penerapan bunga per hari (ceiling).
  • Aturan peminjaman dan penagihan yang tidak melanggar etika.
  • Edukasi keuangan masyarakat terkait fintech lending.
  • Sekretariat untuk membahas pokok dari regulasi OJK.
  • Penerapan itikad baik dalam hal penanganan data pribadi.

Dengan terbentuknya AFPI, penyelenggaraan bisnis fintech lendingdiharapkan bisa berkembang ke arah yang lebih baik pada 2020. Menarik untuk melihat bagaimana para startup fintech lending berkonsolidasi dengan pemain-pemain di luar kota besar, untuk menekan situasi buruk yang mereka hadapi tahun lalu.

Peluang: pasar ekonomi halal makin prospektif

Tahun 2020 diperkirakan bakal menghadirkan peluang besar bagi startup yang membidik pasar ekonomi halal di Indonesia. Hal tersebut dijelaskan lembaga Indonesia Halal Lifestyle Center, yang pada Desember 2020 memaparkan laporan singkat terkait strategi peta jalan ekonomi halal di dalam negeri.

Menurut laporan itu, Indonesia masuk ke dalam peta pasar domestik ekonomi halal terbesar dunia dengan potensi populasi muslim berjumlah 219 juta jiwa (tahun 2020). Pihak Halal Lifestyle Center membuat peta jalan ekonomi guna menyoroti peluang-peluang yang terbuka untuk meraih pertumbuhan signifikan, mengingat saat ini Indonesia hanya mewakili 3,3 persen ekonomi halal dunia.

Rafi-uddin Shikoh, Managing Director perusahaan advokasi ekonomi halal DinarStandard, menjelaskan bahwa Indonesia sebetulnya punya potensi besar, tetapi belum dapat menangani proposisi ekonomi halal dengan jelas. Negara-negara yang secara aktif menggerakkan pertumbuhan ekonomi halal saat ini (seperti Malaysia) telah melakukannya secara baik, meskipun PDB mereka lebih kecil dan populasi muslim lebih sedikit dibanding Indonesia.

Menurut Shikoh, dengan ekosistem startup yang sudah cukup berkembang kini, kondisi tersebut menjadi pertanda baik pihak-pihak yang berniat membidik sektor ekonomi halal, seperti:

  • Sektor retail,
  • Teknologi (blockchain kebutuhan halal),
  • Pemesanan perjalanan umrah,
  • E-commerce fesyen,
  • Fintech syariah,
  • Media, hingga
  • Kosmetik.

“Dengan agenda pemilihan presiden yang akan berlangsung , terlepas siapa pun pemenangnya, laporan ini akan memberikan wawasan sebagai salah satu pemegang perananan kunci dalam penyusunan rencana-rencana pertumbuhan ekonomi nasional.”

Melihat peluang tersebut, Sapta Nirwandar selaku ketua Indonesia Lifestyle Center menerangkan pihaknya akan memberi panduan target untuk membantu pertumbuhan ekonomi halal di Indonesia secara keseluruhan.

Tantangan: pilpres tentukan nasib startup dan investasi ke depan?

Perusahaan modal ventura akan terus berinvestasi di Indonesia pada 2020 mendatang, seperti yang telah mereka lakukan selama ini. Meski Indonesia tengah memasuki masa pemilihan presiden di 2020, kalangan investor diperkirakan tak akan banyak terpengaruh oleh kondisi politik.

Meski demikian, kekhawatiran justru diungkapkan para pelaku startup yang bergantung sepenuhnya dengan regulasi pemerintahan petahana, seperti fintech. Diakui Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia, Niki Santo Luhur, tahun 2020 akan jadi tahun yang penting untuk keputusan sektor startup fintech di masa mendatang.

Selain situasi politik, peristiwa global seperti perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat secara tidak langsung juga menyumbangkan faktor ketidakpastian dan risiko bagi ranah investasi dan perbankan di tahun 2020.

Lain sektor, lain pula hal yang dirasakan pelaku startup di Indonesia. Pelaku startup di bidang jasa e-commerce maupun marketplace kecantikan seperti HelloBeauty misalnya.

Dennish Tjandra selaku CEO HelloBeauty menuturkan bahwa situasi politik kemungkinan besar tidak akan berdampak pada layanan jasa dan komunitas yang ia tekuni. “Yang jelas, kita lebih banyak fokus terhadap produk dan pasar,” ungkap Dennish.

Peluang: ranah pembayaran digital akan terus berkembang

Layanan keuangan untuk ranah pembayaran digital akan terus diminati masyarakat. Hal tersebut bisa terlihat dari makin berkembangnya basis pengguna layanan pembayaran seperti OVO, GO-PAY, T-CASH, dan Dana.

Pada tahun 2020, penggunaan pembayaran digital disebut-sebut telah menyokong pertumbuhan yang signifikan bagi sektor retail offline. Pemakaian sistem transaksi nontunai yang dianggap lebih praktis dan efisien mulai diadopsi secara luas di kota-kota besar, meski dalam praktiknya sebagian besar penduduk Indonesia masih banyak yang menggunakan transaksi tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan inklusi produk keuangan digital yang berkembang pesat dua tahun terakhir, para pelaku startup perlu membidik peluang untuk melakukan integrasi dan memperluas kanal pembayaran di segala sisi. Dikutip dari Tempo, Meredith Peng selaku Senior Consultant Angel Investment Network Indonesia (ANGIN) menuturkan peluang ini bisa dimanfaatkan oleh startuplain di luar e-commerce, seperti sektor kesehatan dan pertanian.

Yang menarik, wacana standardisasi kode QR gabungan milik Gerbang Pembayaran Nasional juga akan merambah sektor e-money ke depannya. Dengan segala opsi kemudahan yang akan diadopsi produk keuangan ini, cukup menarik untuk melihat dampak inklusi keuangan digital ini bagi aktivitas transaksi sektor-sektor di Indonesia pada tahun 2020.

Tantangan: startup cryptocurrency berjuang keras hadapi perubahan pasar

Ranah cryptocurrency bisa dibilang kurang beruntung di penghujung 2020. Regulasi yang makin ketat dari berbagai pihak, larangan penggunaan, hingga kekhawatiran atas potensi penipuan dan peretasan siber, menjadi alasan di balik kemerosotan cryptocurrency seperti Bitcoin di tahun 2020.

Meski demikian, para pelaku startup cryptocurrency di Indonesia tampaknya tetap optimis bisa mendorong instrumen investasi ini menuju popularitasnya lagi di masa mendatang. Hal ini bisa dilihat dari geliat startup lokal yang masih konsisten menawarkan produk cryptocurrency, seperti INDODAX (dulu Bitcoin Indonesia), Bitocto, Nusa Exchange, dan sebagainya.

Dikutip dari Tribun, Ketua Himpunan Pemerhati Hukum Siber Indonesia (HPHSI) Galang Prayogo mengungkapkan pasar Bitcoin diprediksi akan kembali naik di tahun-tahun 2020. Menurutnya, dorongan regulasi dari pemerintah bisa menjadi stimulus untuk menyakinkan pasar Bitcoin dan cryptocurrency lainnya di Indonesia, sebagaimana aturan yang dilakukan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) pada pertengahan 2020.

“Nilai tukar memang menjadi pertimbangan bagi para pemainnya, tetapi stimulus seperti aturan main yang jelas lebih menjadi faktor utama yang bisa membuat Bitcoin kembali ramai,” ujar Galang.

Nasib startup layanan jual beli cryptocurrency di Indonesia sangat bergantung pada permintaan pasar. Jika dibandingkan dengan dua tahun ke belakang, perilaku penggunaan cryptocurrency sekarang terasa sangat berbeda, apalagi setelah Bank Indonesia melarang pemakaian mata uang virtual ini sebagai alat pembayaran resmi di dalam negeri.

Volatilitas pasar cryptocurrency dan pengaruhnya terhadap perspektif konsumen jelas masih menjadi tantangan yang terus dihadapi pelaku startup jual beli digital aset ini di tahun 2020. Bagaimana cara mereka menghadapi tantangan semacam ini ke depannya akan menjadi hal menarik untuk diamati nanti.

Strategi perdagangan Indonesia hadapi tantangan global

Selasa, 3 Februari 2020 01:34 WIB

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) – Udara dingin yang bisa mencapai minus tujuh pada pagi hari di Davos, Swiss, tidak menyurutkan lebih dari seribu CEO perusahaan besar dari berbagai belahan dunia mengikuti pertemuan tahunan World Economic Forum yang berlangsung sejak 21-24 Januari 2020

Ajang tahunan WEF menjadi penting bagi mereka dalam mengambil keputusan bisnis ke depan karena dalam forum itu dibahas berbagai tren, tantangan, dan solusi dan peluang di tahun ini.

Tahun ini organisasi yang didirikan profesor di bidang bisnis dari Universitas Jenewa, Swiss, Klaus Schwab itu mengambil tema besar diskusi “The New Global Context” yang tidak hanya membahas masalah ekonomi, tapi juga politik, sosial, lingkungan, dan teknologi.

Namun sejak awal, Klaus Schwab menegaskan bahwa pertemuan tahunan yang tidak hanya dihadiri CEO, tapi juga akademisi, tokoh politik dan pemerintahan, serta lembaga swadaya masyarakat dan jurnalis itu, bukan hanya untuk menginventaris masalah, tapi juga mencari solusi.

“Kita datang di sini untuk menangani berbagai tantangan regional dan domestik,” katanya pada pembukaan forum tersebut.

Ia berharap dari interaksi para pemimpin perusahaan, tokoh, dan akademisi, serta LSM, dan jurnalis itu akan menghasilkan salah satunya kesepakatan dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, di tengah tantangan global yang makin berat.

Tantangan tersebut antara lain berasal dari harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun dan krisis di sejumlah negara yang belum berakhir, sehingga mempengaruhi perubahan bisnis dan pertumbuhan ekonomi global.

Dalam diskusi awal terkait ekonomi makro terungkap bahwa negara berkembang akan mendapat tantangan besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Hal itu terkait dengan perlambatan ekonomi global, proses pemulihan ekonomi Amerika Serikat, krisis di Eropa yang bisa muncul sewaktu-waktu, penurunan harga minyak dunia, serta perlambatan laju pertumbuhan ekonomi China yang selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan global.

Pada diskusi dengan pembicara antara lain Co-founder and Managing Director The Carlyle Group David M. Rubenstein, Deputy Managing Director International Monetary Fund (IMF) Min Zhu, CEO SOHO China Zhang Xin, Vice-Chairman GE Hong Kong SAR John Rice, dan ekonom asal Jerman Axel Weber itu juga terkemuka tantangan lain di bidang ekonomi berupa risiko penggelembungan aset di beberapa beberapa negara, inflasi tak terkendali, kegagalan mekanisme sistem keuangan, dan krisis ekonomi pada sebagian negara utama di dunia.

Dari semua itu yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan harga minyak mentah yang menyentuh angka di bawah 50 dolar AS/barel, serta keengganan AS memangkas produksi shale oil, yang bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

Salah satu negara yang diperkirakan akan “terpukul” oleh tantangan global yang masih berat itu adalah adalah Rusia. Perekonomian negeri Beruang Merah itu diperkirakan tumbuh di bawah proyeksi 4,8 persen pada tahun ini.

Ekonomi Domestik

Lalu bagaimana dampak ekonomi global tersebut terhadap Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil yang juga hadir pada WEF nampak tidak khawatir dengan hal tersebut. Ia yakin kekuatan ekonomi domestik masih besar untuk menghadapi tantangan global yang bakal menghadang

Apalagi ia menilai pembicaraan mengenai Indonesia sangat positif di forum dunia itu. Pada sejumlah diskusi banyak pembicara yang mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah terutama di bidang reformasi birokrasi dan perbaikan iklim investasi. .

“Saya melihat pesan Presiden Joko Widodo tentang perbaikan iklim investasi di Indonesia sudah tersebar luas di sini (WEF),” ujar Sofyan.

Oleh karena itu ia tidak ragu investasi asing ke Indonesia bakal terus mengalir. Apalagi sejumlah negara maju melonggarkan likuiditas mereka.

Sofyan justru mengkhawatirkan penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena negeri Tirai Bambu itu merupakan salah satu tujuan utama ekspor komoditas Indonesia.

Pada 2020, misalnya, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 22,6 miliar dolar AS dan pada Januari-Oktober 2020 nilai ekspor telah mencapai 14,6 miliar dolar AS.

Sofyan mengakui ada kecenderungan ekspor Indonesia menurun, tidak hanya karena perlambatan ekonomi Tiongkok, namun juga akibat pemerintah melarang ekspor bahan tambang dalam keadaan mentah (primer). Selama ini ekspor Indonesia ke Tiongkok didominasi produk bahan primer, termasuk tambang dan perkebunan.

Namun jangka menengah dan panjang, ia yakin dengan pelarangan ekspor bahan mentah, maka nilai ekspor Indonesia akan meningkat karena harga komoditas bakal naik setelah diolah terlebih dahulu di dalam negeri.

Hal senada dikemukakan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel yang juga hadir di WEF. Ia menilai tantangan global yang semakin berat, merupakan peluang untuk menunjukkan kekuatan ekonomi dan pasar domestik.

“Pasar domestik kita yang besar adalah insentif dan bisa dimanfaatkan lebih maksimal di tengah tantangan global saat ini,” katanya di sela-sela pertemuan bilateral dengan sejumlah negara di Davos.

Untuk itu, ia akan mengoptimalkan semua perangkat yang ada di Kementerian Perdagangan untuk melindungi pasar dalam negeri, mendorong investasi, dan mendukung penguatan industri nasional.

Kendati demikian, Rachmat menegaskan pihaknya juga akan terus mencari peluang-peluang baru untuk menggenjot ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi guna memenuhi target kenaikan ekspor tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Untuk itu, meski baru tiga bulan sejak pelantikan menjadi Menteri Perdagangan, ia langsung memanggil para pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri — yang terdiri dari 24 atase perdagangan, 19 pejabat Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC), konsul perdagangan di Hong Kong, dan kantor dagang dan ekonomi di Taiwan — guna membuat strategi ekspansi pasar ekspor.

“Pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri harus berperan aktif dan inovatif meningkatkan ekspor di negara akreditasi masing-masing,” ujar Rachmat yang juga mantan anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) itu.

Keseriusan itu juga terlihat ketika ia meminta secara khusus Atase Perdagangan Indonesia di Jenewa, Swiss, Nugraheni Prasetya Hastuti untuk mencari peluang baru ekspor produk manufaktur.

“Tolong cari peluang-peluang lain untuk meningkatkan ekspor kita ke Swiss,” pintanya ketika berada di Bandara Zurich sebelum kembali ke tanah air pascamenghadiri pertemuan WEF di Davos, beberapa waktu lalu.

Permintaan Rachmat itu terkait strategi jangka menengah Kementerian Perdagangan untuk mengubah struktur komoditas ekspor. Selama ini ekspor nonmigas Indonesia didominasi produk primer (bahan mentah) yang mencapai 63 persen, sedangkan produk manufaktur hanya 37 persen.

Ke depan struktur itu akan diubah menjadi 65 persen produk manufaktur dan 35 persen produk primer. “Untuk mencapai target itu, saya akan berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian Saleh Husin,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Riset itu.

Sejauh ini pihaknya telah menginventarisasi 60 produk untuk mendukung perubahan struktur ekspor tersebut, antara lain berupa produk jasa, produk kreatif, produk kulit, elektronik, tekstil, kimia, kayu dan mebel, serta produk logam yang permintaannya masih tinggi di dunia, di samping mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Perubahan itu juga sejalan dengan prediksi Bank Dunia dalam “Commodity Price Forecast” yang menyebutkan indeks harga komoditas enegi akan turun dari 123,2 pada 2020 menjadi 121,9 pada 2020. Sedangkan indeks harga produk manufaktur naik dari 109 pada 2020 menjadi 115,4 pada 2020.

Oleh karena itu ia mengajak seluruh kekuatan terutama di jajaran Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk bekerja lebih keras dan tangkas, bahkan kalau perlu melewati rintangan yang berbahaya sekalipun agar target 300 persen kenaikan ekspor bisa tercapai.

“Seperti suatu ungkapan dalam Bahasa Itali yang pernah dipopulerkan Bung Karno, Vivere Pericoloso, yang berarti hiduplah secara berbahaya. Kemendag bercita-cita besar meningkatkan daya saing hingga dapat melipatgandakan ekspor nonmigas selama 2020,” ujarnya.

Oleh Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Peringkat broker opsi biner:
Di mana menginvestasikan uang
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: